Kemuliaan dan Penderitaan
OASIS SABDA 13 Mar 2022
Minggu Prapaskah II
Bacaan I: Kej 15:5-12.17-18
Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1.7-8.9abc.13-14
Bacaan II: Flp 3:17-4:1
Bacaan Injil: Luk 9:28b-36
"Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia." (Luk 9:35)
Saling mendengarkan pada saat ini semakin sulit. Walau alat komunikasi semakin canggih, tekhnologi media semakin hebat, tetapi kemampuan mendengar tidaklah semakin baik. Malahan, rasa-rasanya semakin memburuk. Terlebih ketika sedang bersama, setiap orang sibuk dengan smartphonennya masing-masing. Sibuk dengan dirinya sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Tragisnya, hal ini pun terjadi dalam keluarga. Orang tua, anak, dan semua anggota keluarga sibuk dan asyik dengan smarthphonenya dan mengabaikan komunikasi dari hati ke hati.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang peristiwa transfigurasi. Peristiwa Yesus menunjukkan kemuliaanNya kepada ketiga murid inti-Nya, Petrus, Yakobus dan Yohanes. Peristiwa Yesus menampakkan kemuliaan-Nya boleh dikatakan saat jedah sebelum Yesus dan para murid-Nya berangkat ke Yerusalem dan menghadapi saat-saat derita.
Yesus membawa tiga murid inti yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mereka naik ke atas sebuah gunung untuk berdoa. Ketika sedang berdoa, wajah Yesus berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Pada saat yang sama Musa dan Elia nampak sedang berbicara dengan Yesus. Hal yang dibicarakan bersama adalah misi Yesus di Yerusalem terutama paskah-Nya.
Kita ingat bahwa Yesus datang untuk melengkapi semua hukum yang ada. Musa mewakili Taurat dan Elia mewakili para nabi. Kehadiran mereka berdua sudah menunjukkan bahwa Yesus sungguh-sungguh menggenapi hukum lama dan baru. Artinya segala sesuatu di dalam Taurat dan Kitab para nabi menjadi sempurna di dalam diri Yesus.
Ketiga murid ini terpesona karena merasakan kenyamanan bersama Tuhan. Petrus dengan percaya diri mengatakan kepada Yesus: “Guru, betapa bahagiannya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Pemikiran Petrus yang sangat manusiawi itu disempurnakan oleh suara: “Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” Hal yang menarik perhatian kita pada akhir bacaan injil adalah: ketika mereka mengangkat kepala mereka hanya melihat Yesus seorang diri.
Yesus adalah segalanya. Ia menampakkan kemuliaan-Nya di depan para murid untuk mengatakan bahwa sesudah melewati segala penderitaan, Ia akan bangkit dengan mulia. Dan karena kemuliaan-Nya ini semua mata tertuju kepada-Nya dan hanya melihat Yesus seorang diri saja.
Masa prapaskah menjadi masa untuk melihat Yesus seorang diri dan mendengar-Nya. Hidup kristiani menjadi indah ketika kita mengangkat kepala dan melihat Yesus seorang diri saja dan mendengarNya hari demi hari.
St. Paulus dalam bacaan kedua mengajak jemaat di Filipi untuk menyadari bahwa kiblat hidup mereka terarah ke Surga. Tentu saja bukan hanya orang Filipi tetapi kita semua yang dibaptis saat ini juga berjalan di jalan yang sama. Kita adalah warga Kerajaan Surga.
Dengan demikian kita menantikan Tuhan Yesus Kristus, Sang Penyelamat yang akan mengubah tubuh kita menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia sesuai dengan kuasaNya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diriNya. Untuk itu Paulus mengharapkan supaya setiap orang harus berdiri teguh dalam iman.
Pengajaran Paulus mengantar kita percaya kepada kebangkitan Kristus. Mengapa percaya kepada kebangkitanNya? Kita diharapkan membaktikan diri kita kepadaNya dan memiliki harapan pasti bahwa pada hari terakhir Ia juga akan membangkitkan kita dan kita menjadi satu dengan Bapa di Surga. Kita menikmati kemuliaan Bapa dan kemuliaan Yesus sebagai Putera serta kemuliaan dalam Roh Kudus.
Tentu saja untuk mencapai kemuliaan kekal dan mengalaminya bersama Bapa di Surga kita juga percaya bahwa janji Tuhan itu selalu dipenuhi. Ia pernah berjanji kepada Abraham sebagaimana kita dengar dalam bacaan pertama dan janjiNya itu Ia penuhi. Segala ciptaan Tuhan perlihatkan kepada Abraham dan ia berjanji akan memberikan kepadanya dan segala keturunan. Perjanjian adalah inisiatif Tuhan bagi manusia terutama karena belas kasih dan keurahanNya. Meskipun nantinya anak-anak Abraham jatuh dalam dosa tetapi Tuhan tetap akan memenuhi janji setiaNya. Tuhan itu setia meskipun manusia tidak setia.
Sabda Tuhan hari ini secara khusus untuk mengarahkan pandangan kita kepada Yesus dan mendengarNya. Banyak kali kita tidak mampu mendengar Yesus dan memandangNya. Hati kita terlalu tegar dan telinga kita tidak difungsikan dengan baik. Padahal Dialah satu-satunya yang menyelamatkan kita. Dialah yang memberi penebusan yang berlimpah. Mari kita tunjukkan kemuliaan Tuhan di dalam hidup kita setia hari. Biarlah orang mengakses kemuliaan Tuhan dalam diri kita melalui perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan setiap hari bagi sesama.
Tuhan memberkati dan Ave Maria.
Minggu Prapaskah II
Bacaan I: Kej 15:5-12.17-18
Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1.7-8.9abc.13-14
Bacaan II: Flp 3:17-4:1
Bacaan Injil: Luk 9:28b-36
"Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia." (Luk 9:35)
Saling mendengarkan pada saat ini semakin sulit. Walau alat komunikasi semakin canggih, tekhnologi media semakin hebat, tetapi kemampuan mendengar tidaklah semakin baik. Malahan, rasa-rasanya semakin memburuk. Terlebih ketika sedang bersama, setiap orang sibuk dengan smartphonennya masing-masing. Sibuk dengan dirinya sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Tragisnya, hal ini pun terjadi dalam keluarga. Orang tua, anak, dan semua anggota keluarga sibuk dan asyik dengan smarthphonenya dan mengabaikan komunikasi dari hati ke hati.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang peristiwa transfigurasi. Peristiwa Yesus menunjukkan kemuliaanNya kepada ketiga murid inti-Nya, Petrus, Yakobus dan Yohanes. Peristiwa Yesus menampakkan kemuliaan-Nya boleh dikatakan saat jedah sebelum Yesus dan para murid-Nya berangkat ke Yerusalem dan menghadapi saat-saat derita.
Yesus membawa tiga murid inti yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mereka naik ke atas sebuah gunung untuk berdoa. Ketika sedang berdoa, wajah Yesus berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Pada saat yang sama Musa dan Elia nampak sedang berbicara dengan Yesus. Hal yang dibicarakan bersama adalah misi Yesus di Yerusalem terutama paskah-Nya.
Kita ingat bahwa Yesus datang untuk melengkapi semua hukum yang ada. Musa mewakili Taurat dan Elia mewakili para nabi. Kehadiran mereka berdua sudah menunjukkan bahwa Yesus sungguh-sungguh menggenapi hukum lama dan baru. Artinya segala sesuatu di dalam Taurat dan Kitab para nabi menjadi sempurna di dalam diri Yesus.
Ketiga murid ini terpesona karena merasakan kenyamanan bersama Tuhan. Petrus dengan percaya diri mengatakan kepada Yesus: “Guru, betapa bahagiannya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Pemikiran Petrus yang sangat manusiawi itu disempurnakan oleh suara: “Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” Hal yang menarik perhatian kita pada akhir bacaan injil adalah: ketika mereka mengangkat kepala mereka hanya melihat Yesus seorang diri.
Yesus adalah segalanya. Ia menampakkan kemuliaan-Nya di depan para murid untuk mengatakan bahwa sesudah melewati segala penderitaan, Ia akan bangkit dengan mulia. Dan karena kemuliaan-Nya ini semua mata tertuju kepada-Nya dan hanya melihat Yesus seorang diri saja.
Masa prapaskah menjadi masa untuk melihat Yesus seorang diri dan mendengar-Nya. Hidup kristiani menjadi indah ketika kita mengangkat kepala dan melihat Yesus seorang diri saja dan mendengarNya hari demi hari.
St. Paulus dalam bacaan kedua mengajak jemaat di Filipi untuk menyadari bahwa kiblat hidup mereka terarah ke Surga. Tentu saja bukan hanya orang Filipi tetapi kita semua yang dibaptis saat ini juga berjalan di jalan yang sama. Kita adalah warga Kerajaan Surga.
Dengan demikian kita menantikan Tuhan Yesus Kristus, Sang Penyelamat yang akan mengubah tubuh kita menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia sesuai dengan kuasaNya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diriNya. Untuk itu Paulus mengharapkan supaya setiap orang harus berdiri teguh dalam iman.
Pengajaran Paulus mengantar kita percaya kepada kebangkitan Kristus. Mengapa percaya kepada kebangkitanNya? Kita diharapkan membaktikan diri kita kepadaNya dan memiliki harapan pasti bahwa pada hari terakhir Ia juga akan membangkitkan kita dan kita menjadi satu dengan Bapa di Surga. Kita menikmati kemuliaan Bapa dan kemuliaan Yesus sebagai Putera serta kemuliaan dalam Roh Kudus.
Tentu saja untuk mencapai kemuliaan kekal dan mengalaminya bersama Bapa di Surga kita juga percaya bahwa janji Tuhan itu selalu dipenuhi. Ia pernah berjanji kepada Abraham sebagaimana kita dengar dalam bacaan pertama dan janjiNya itu Ia penuhi. Segala ciptaan Tuhan perlihatkan kepada Abraham dan ia berjanji akan memberikan kepadanya dan segala keturunan. Perjanjian adalah inisiatif Tuhan bagi manusia terutama karena belas kasih dan keurahanNya. Meskipun nantinya anak-anak Abraham jatuh dalam dosa tetapi Tuhan tetap akan memenuhi janji setiaNya. Tuhan itu setia meskipun manusia tidak setia.
Sabda Tuhan hari ini secara khusus untuk mengarahkan pandangan kita kepada Yesus dan mendengarNya. Banyak kali kita tidak mampu mendengar Yesus dan memandangNya. Hati kita terlalu tegar dan telinga kita tidak difungsikan dengan baik. Padahal Dialah satu-satunya yang menyelamatkan kita. Dialah yang memberi penebusan yang berlimpah. Mari kita tunjukkan kemuliaan Tuhan di dalam hidup kita setia hari. Biarlah orang mengakses kemuliaan Tuhan dalam diri kita melalui perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan setiap hari bagi sesama.
Tuhan memberkati dan Ave Maria.
Komentar
Posting Komentar